<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
  <channel>
    <title>sparklingdust</title>
    <link>https://sparklingdust.writeas.com/</link>
    <description>imagination dump</description>
    <pubDate>Sat, 04 Apr 2026 04:10:36 +0000</pubDate>
    <item>
      <title>&#34;Jaemin-ah, did it hurt?&#34;</title>
      <link>https://sparklingdust.writeas.com/jaemin-ah-did-it-hurt?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[&#34;Jaemin-ah, did it hurt?&#34;&#xA;&#xA;Jaemin frowned when Renjun, out of the blue, asked him such question in the middle of their study session. It&#39;s not everyday he found Renjun being the one who ignore their lesson. It&#39;s always Jaemin first and then Renjun will nag him for being not focus.&#xA;&#xA;&#34;What? What was hurt, Injun-ah?&#34;&#xA;&#xA;Injun. Jaemin always like the way this name rolled in his tongue, feels special and personal because he was the one who suggested that nickname for Renjun. Before, he always misspelled Renjun&#39;s name as Ronjin, Ronjon, or Ronjun until he stick with Injun instead, since it&#39;s easier and more convenient for him. Blame his tongue though.&#xA;&#xA;Also, he would never forget Renjun&#39;s expression when the first time Jaemin called him Injun: surprised but delighted. And his cheek painted pink under the spring sky. &#34;I like that name,&#34; he said, &#34;it sounds better than Ronjon,&#34; and then they laughed.&#xA;&#xA;&#34;Ehm,&#34; Renjun&#39;s sudden artificial chough cut his train of thought. It brings back Jaemin to the present time when Renjun, strangely, looks nervous. He bites his cheeks from the inside, his gaze fixated on Jaemin&#39;s eyes but Jaemin can tell that the silver haired boy looks unsure.&#xA;&#xA;&#34;Injun-ah?&#34;&#xA;&#xA;&#34;You haven&#39;t answer my question,&#34; Renjun is pouting, Jaemin&#39;s heart fall. How can Renjun be this cute? This is illegal.&#xA;&#xA;&#34;What question?&#34; Jaemin asked him back after a long pause. He should regain his composure from the Renjun-pouting-face. It&#39;s not safe for his heart rate. For the record, despite being naturally cute, Renjun isn&#39;t easy to do cute things. It&#39;s a rare occassion.&#xA;&#xA;&#34;Did it hurt?&#34;&#xA;&#xA;Jaemin raised his eyebrows. That question again?&#xA;&#xA;&#34;Why would I hurt?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Because you fall?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Fall?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Yes, fall for me, I mean,&#34;&#xA;&#xA;A long pause again, and the realization dawn at Jaemin, Renjun just want to give him a pick up line.&#xA;&#xA;Well, you need two to tango, so Jaemin takes his chance.&#xA;&#xA;&#34;Well, why would I hurt when you catch me?&#34;&#xA;&#xA;Renjun blushed.&#xA;&#xA;Yeah, it&#39;s Jaemin win again.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>“Jaemin-<em>ah</em>, did it hurt?”</p>

<p>Jaemin frowned when Renjun, out of the blue, asked him such question in the middle of their study session. It&#39;s not everyday he found Renjun being the one who ignore their lesson. It&#39;s always Jaemin first and then Renjun will nag him for being not focus.</p>

<p>“What? What was hurt, Injun-<em>ah</em>?”</p>

<p><em>Injun</em>. Jaemin always like the way <em>this</em> name rolled in his tongue, feels special and personal because he was the one who suggested that <em>nickname</em> for Renjun. Before, he always misspelled Renjun&#39;s name as Ronjin, Ronjon, or Ronjun until he stick with Injun instead, since it&#39;s easier and more convenient for him. Blame his tongue though.</p>

<p>Also, he would never forget Renjun&#39;s expression when the first time Jaemin called him Injun: surprised but delighted. And his cheek painted pink under the spring sky. “I like that name,” he said, “it sounds better than Ronjon,” and then they laughed.</p>

<p>“Ehm,” Renjun&#39;s sudden <em>artificial</em> chough cut his train of thought. It brings back Jaemin to the present time when Renjun, <em>strangely</em>, looks nervous. He bites his cheeks from the inside, his gaze fixated on Jaemin&#39;s eyes but Jaemin can tell that the silver haired boy looks unsure.</p>

<p>“Injun-<em>ah</em>?”</p>

<p>“You haven&#39;t answer my question,” Renjun is pouting, Jaemin&#39;s heart fall. How can Renjun be this cute? This is illegal.</p>

<p>“What question?” Jaemin asked him back after a long pause. He should regain his composure from the <em>Renjun-pouting-face</em>. It&#39;s not safe for his heart rate. For the record, despite being naturally cute, Renjun isn&#39;t easy to do cute things. It&#39;s a rare occassion.</p>

<p>“Did it hurt?”</p>

<p>Jaemin raised his eyebrows. <em>That question again?</em></p>

<p>“Why would I hurt?”</p>

<p>“Because you fall?”</p>

<p>“Fall?”</p>

<p>“Yes, fall for me, I mean,”</p>

<p>A long pause again, and the realization dawn at Jaemin, Renjun just want to give him a <em>pick up line</em>.</p>

<p>Well, you need two to tango, so Jaemin takes his chance.</p>

<p>“Well, why would I hurt when you catch me?”</p>

<p>Renjun blushed.</p>

<p>Yeah, it&#39;s Jaemin win again.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://sparklingdust.writeas.com/jaemin-ah-did-it-hurt</guid>
      <pubDate>Sat, 21 Dec 2019 02:09:52 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>akhir pekan ini seharusnya jadi hari bermalas-malasan untuk renjun, dia ingin...</title>
      <link>https://sparklingdust.writeas.com/snack-time?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[akhir pekan ini seharusnya jadi hari bermalas-malasan untuk renjun, dia ingin rebahan saja seharian. segala bentuk tugas semacam  paper, laporan praktikum, deadline blue print konstruksi tes dan bahkan lpj hima bertumpuk di minggu kemarin. semuanya dia kerjakan dalam kurun waktu seminggu. tentunya, dia jadi tidak punya waktu tidur yang layak. &#xA;&#xA;memang selalu seperti ini setiap menjelang akhir tahun. hal begini sudah bukan hal baru lagi baginya mengingat semester ini ia sudah memasuki masa-masa sebagai mahasiswa tingkat tiga. entah memang kebanyakan orang suka prokastinasi atau memang workload di setiap bidang selalu menumpuk di akhir tahun begini. kalau sedang seperti ini rasanya renjun ingin cepat-cepat demisioner saja, biar setidaknya dia tidak lagi menanggung beban jabatan di organisasi kampus. tinggal menunggu hitungan minggu saja, sih. untuk sekarang ini yang jelas dan yang paling realistis, renjun ingin meluangkan waktu sehari ini khusus untuk dirinya sendiri. me time.&#xA;&#xA;tapi sayangnya, ia lupa memberi tahu kekasihnya mengenai hal ini. biasanya mereka memang sering meluangkan waktu bersama di akhir pekan, mengingat jarak fakultas mereka beda kompleks, dan jadwal kuliah mereka susah dicocokkan. tepat jam tujuh pagi, na jaemin muncul di ambang pintu kosnya lengkap dengan celana training dan kaos hitam belelnya, tetes peluh menempel di pelipis (sepertinya dia baru saja jogging) disertai dengan senyum cerah yang menghiasi wajah, &#34;baobei, lari pagi yuk!&#34;&#xA;&#xA;sebenarnya renjun ingin menolak, ia merindukan kasurnya yang tidak empuk-empuk amat itu. tapi ketika dilihatnya jaemin menunggunya sembari masih memasang senyum lebar yang sama, renjun menemukan hal lain yang lebih dirindukannya daripada waktu tidurnya.&#xA;&#xA;&#34;wait me for a while,&#34; ia mencium pipi jaemin sekilas sebelum bergegas ke kamar mandi, mengganti pakaian.&#xA;&#xA;tidak apa lah untuk kali ini rencana rebahannya berubah jadi acara berduaan, dan me time-nya berubah  jadi their time. toh tidak tiap hari.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>akhir pekan ini seharusnya jadi hari bermalas-malasan untuk renjun, dia ingin rebahan saja seharian. segala bentuk tugas semacam  <em>paper</em>, laporan praktikum, <em>deadline blue print</em> konstruksi tes dan bahkan lpj hima bertumpuk di minggu kemarin. semuanya dia kerjakan dalam kurun waktu seminggu. tentunya, dia jadi tidak punya waktu tidur yang layak.</p>

<p>memang selalu seperti ini setiap menjelang akhir tahun. hal begini sudah bukan hal baru lagi baginya mengingat semester ini ia sudah memasuki masa-masa sebagai mahasiswa tingkat tiga. entah memang kebanyakan orang suka prokastinasi atau memang <em>workload</em> di setiap bidang selalu menumpuk di akhir tahun begini. kalau sedang seperti ini rasanya renjun ingin cepat-cepat demisioner saja, biar setidaknya dia tidak lagi menanggung beban jabatan di organisasi kampus. tinggal menunggu hitungan minggu saja, sih. untuk sekarang ini yang jelas dan yang paling realistis, renjun ingin meluangkan waktu sehari ini khusus untuk dirinya sendiri. <em>me time</em>.</p>

<p>tapi sayangnya, ia lupa memberi tahu kekasihnya mengenai hal ini. biasanya mereka memang sering meluangkan waktu bersama di akhir pekan, mengingat jarak fakultas mereka beda kompleks, dan jadwal kuliah mereka susah dicocokkan. tepat jam tujuh pagi, na jaemin muncul di ambang pintu kosnya lengkap dengan celana <em>training</em> dan kaos hitam belelnya, tetes peluh menempel di pelipis (sepertinya dia baru saja <em>jogging</em>) disertai dengan senyum cerah yang menghiasi wajah, “<em>baobei</em>, lari pagi yuk!”</p>

<p>sebenarnya renjun ingin menolak, ia merindukan kasurnya yang tidak empuk-empuk amat itu. tapi ketika dilihatnya jaemin menunggunya sembari masih memasang senyum lebar yang sama, renjun menemukan hal lain yang lebih dirindukannya daripada waktu tidurnya.</p>

<p>“<em>wait me for a while</em>,” ia mencium pipi jaemin sekilas sebelum bergegas ke kamar mandi, mengganti pakaian.</p>

<p>tidak apa lah untuk kali ini rencana rebahannya berubah jadi acara berduaan, dan <em>me time</em>-nya berubah  jadi <em>their time</em>. <em>toh</em> tidak tiap hari.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://sparklingdust.writeas.com/snack-time</guid>
      <pubDate>Tue, 10 Dec 2019 11:21:05 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>day 3 - forehead kisses</title>
      <link>https://sparklingdust.writeas.com/day-3-forehead-kisses?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[day 3 - forehead kisses&#xA;&#xA;&#34;Kenapa senyum-senyum gaje kayak gitu?&#34; Renjun bertanya pada Jaemin dengan alis bertaut ketika dia menoleh dan dilihatnya Jaemin tengah tersenyum-senyum ganjil sambil memandanginya. Makannya sepertinya belepotan karena di detik berikutnya Renjun merasakan ibu jari Jaemin mampir ke sudut bibirnya, mengusap sisa-sisa saus mayo yang menempel di sana.&#xA;&#xA;&#34;Pelan-pelan makannya,&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ugh, sorry,&#34; Untuk beberapa detik Renjun terlambat memberikan respon karena, ya, sampai sekarang dia masih tidak terbiasa dengan afeksi yang ditunjukkan Jaemin di tempat umum begini, kadang-kadang itu membuatnya geli juga karena orang-orang pasti ada saja yang jadi memperhatikan mereka. Renjun tidak masalah menjadi pusat perhatian, tapi tidak begini juga. Sebaliknya, Jaemin memang ]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><strong>day 3 – forehead kisses</strong></p>

<p>“Kenapa senyum-senyum <em>gaje</em> kayak gitu?” Renjun bertanya pada Jaemin dengan alis bertaut ketika dia menoleh dan dilihatnya Jaemin tengah tersenyum-senyum ganjil sambil memandanginya. Makannya sepertinya belepotan karena di detik berikutnya Renjun merasakan ibu jari Jaemin mampir ke sudut bibirnya, mengusap sisa-sisa saus mayo yang menempel di sana.</p>

<p>“Pelan-pelan makannya,”</p>

<p>“Ugh, <em>sorry</em>,” Untuk beberapa detik Renjun terlambat memberikan respon karena, ya, sampai sekarang dia masih tidak terbiasa dengan afeksi yang ditunjukkan Jaemin di tempat umum begini, kadang-kadang itu membuatnya geli juga karena orang-orang pasti ada saja yang jadi memperhatikan mereka. Renjun tidak masalah menjadi pusat perhatian, tapi tidak begini juga. Sebaliknya, Jaemin memang</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://sparklingdust.writeas.com/day-3-forehead-kisses</guid>
      <pubDate>Thu, 28 Nov 2019 11:55:55 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>salon pas</title>
      <link>https://sparklingdust.writeas.com/002l6z8mawbt504v?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[salon pas&#xA;&#xA;&#34;hei,&#34; &#xA;there was someone approached jaemin from behind when he&#39;s waiting for renjun in canteen. it made him startled a little bit but soon he felt relieved washed him because that someone is renjun. smile blooming on his face.&#xA;&#xA;&#34;injun-ah!&#34;&#xA;&#xA;renjun smiled back at him and then put something tiny and cold on jaemin&#39;s hand. jaemin frowned, he didn&#39;t remember he asked renjun for something.&#xA;&#xA;&#34;apa ini?&#34;&#xA;&#xA;renjun groggily scratching his nape eventho it&#39;s not itchy at all. suddenly, his stomach feels funny.&#xA;&#xA;&#34;itu ... kayaknya kamu lagi butuh itu, kan, kebetulan ee ... tadi mampir di kopma bentar,&#34;&#xA;&#xA;jaemin tilted his head, his little smile still displayed on his face. he then examined what was that and immediately chuckled over it. even in the crowd place like this, his little laugh still sounds melodious in renjun&#39;s ear.&#xA;&#xA;&#34;whipped,&#34; &#xA;&#xA;renjun could hear donghyuck words playing in the back of his head.&#xA;&#xA;&#34;salep buat pegel linu?&#34; jaemin&#39;s voice sounds amused when he asked that. suddenly, renjun wanted the floor to just swallowed him down. eventho he has his own reason, he knew that this is just too out of the blue. giving salep pegal linu for your long time crush definitely wasn&#39;t a good idea, eventhough he seems need it.&#xA;&#xA;&#34;injun?&#34;&#xA;&#xA;jaemin asked him again with softer voice, make him realized that he just keep staring at him all of this time.&#xA;&#xA;&#34;ah iya, biar gak pegel-pegel.&#34;&#xA;&#xA;jaemin smiled at him, &#34;thanks, ini berapaan?&#34;&#xA;&#xA;&#34;gak usah, gituan doang,&#34;&#xA;&#xA;&#34;lah? beneran ini? tapi akunya yang ga enak dong,&#34;&#xA;&#xA;&#34;gak papa, seriusan. langsung balik aja yuk, makannya di kosku aja. aku tadi pagi habis dipesenin mama go-food, belum kumakan,&#34;&#xA;&#xA;jaemin blinked his eyes slowly at those words, &#34;jadi mau nraktir makan sekalian ini ceritanya?&#34;&#xA;&#xA;&#34;iyaaa, mumpung masih tanggal muda, si mama biasa suka kirim-kirim juga. yuk, ah. aku laper.&#34;&#xA;&#xA;jaemin&#39;s smile grew bigger after that. his monthly allowance hasn&#39;t been transfered yet, so it&#39;s such a good opportunity, he could saving more a little.&#xA;&#xA;&#34;lain kali kutraktir balik deh, njun.&#34;&#xA;&#xA;&#34;boleh. traktir malatang ya,&#34;&#xA;&#xA;jaemin laughed at that, &#34;apa mau kamuu deh,&#34;&#xA;&#xA;&#34;beneran ini,&#34;&#xA;&#xA;&#34;iyeee. btw, kok tahu aku lagi butuh ini? cenayang apa gimana?&#34;&#xA;&#xA;renjun contemplating whether he should answer with the truth or not. somehow, it&#39;ll make him looks ... weird or something. but at the other hand he can&#39;t really find another reason. his stomach grumbled annoyingly, it made his brain didn&#39;t want to work like usual.&#xA;&#xA;&#34;well, wangimu ... beda,&#34;&#xA;&#xA;&#34;wangiku?&#34; jaemin sniffed himself confusingly (and honestly that looks funny), &#34;wangi gimana maksudnya?&#34;&#xA;&#xA;&#34;kamu ... bau salon pas.&#34;&#xA;&#xA;&#34;hah? kok tahu? kecium banget ya?&#34; jaemin sniffed himself again.&#xA;&#xA;&#34;errr lumayan. kamu biasanya wanginya wangi downy, tapi tadi pagi ... bau salon pas ... jadi kupikir kayaknya kamu lagi pegel apa gimana,&#34;&#xA;&#xA;&#34;kamu apal sama wangiku?&#34;&#xA;&#xA;&#34;not everyone likes to pour so much fabric softener as much as you,&#34;&#xA;&#xA;&#34;aah, iya sih ya. biasanya pada lebih suka pake parfum,&#34; jaemin scratching his head, realizing one of his own unusual habbit.&#xA;&#xA;&#34;jadi gara-gara aku bau salon pas makanya kamu beliin aku salep ini?&#34;&#xA;&#xA;&#34;iya, is that ... weird?&#xA;&#xA;&#34;no,&#34; jaemin smiled at him again, renjun&#39;s stomach feels like flipped out, &#34;enggak aneh sama sekali. intuisi kamu kuat bener ya? emang badanku lagi ga enak sih, pegel-pegel. jadi ini makasih banget.&#34;&#xA;&#xA;&#34;makanya ... pantes aja itu kantong mata kamu tebel banget. habis begadang lagi kan? sampe-sampe lupa jadwal kuliah sendiri. udah gitu, udah tahu salah jadwal masih maksain ke kampus juga, padahal bisa aja kan pulang ke kos, tidur, istirahat. bukannya wifi-an di kampus.&#34;&#xA;&#xA;renjun knew he was rambling but he doesn&#39;t really care now. beside, jaemin&#39;s fond smile at him made him feeling more confident to be honest.&#xA;&#xA;&#34;dan kamu belum sarapan juga, kan? ini tadi di kantin pasti juga ga jajan?&#34;&#xA;&#xA;&#34;hehe, iya kemarin bunda ngabarin, kirimannya telat sehari, jadi mau ngirit sekalian buat makan siang ntar niatnya.&#34;&#xA;&#xA;&#34;ya makanya. udah sekarang cepetan jalannya biar cepet sampe kos, aku laper banget nih,&#34;&#xA;&#xA;jaemin chuckled again, following renjun&#39;s step from behind. thanking renjun again and that boy just smile again, said that it&#39;s all okay. it&#39;s all okay.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><strong>salon pas</strong></p>

<p>“hei,”
there was someone approached jaemin from behind when he&#39;s waiting for renjun in canteen. it made him startled a little bit but soon he felt relieved washed him because that someone is renjun. smile blooming on his face.</p>

<p>“injun-<em>ah</em>!”</p>

<p>renjun smiled back at him and then put something tiny and cold on jaemin&#39;s hand. jaemin frowned, he didn&#39;t remember he asked renjun for something.</p>

<p>“apa ini?”</p>

<p>renjun groggily scratching his nape eventho it&#39;s not itchy at all. suddenly, his stomach feels funny.</p>

<p>“itu ... kayaknya kamu lagi butuh itu, kan, kebetulan ee ... tadi mampir di kopma bentar,”</p>

<p>jaemin tilted his head, his little smile still displayed on his face. he then examined what was that and immediately chuckled over it. even in the crowd place like this, his little laugh still sounds melodious in renjun&#39;s ear.</p>

<p>“<em>whipped</em>,”</p>

<p>renjun could hear donghyuck words playing in the back of his head.</p>

<p>“salep buat pegel linu?” jaemin&#39;s voice sounds amused when he asked that. suddenly, renjun wanted the floor to just swallowed him down. eventho he has his own reason, he knew that this is just too out of the blue. giving salep pegal linu for your long time crush definitely wasn&#39;t a good idea, eventhough he seems need it.</p>

<p>“injun?”</p>

<p>jaemin asked him again with softer voice, make him realized that he just keep staring at him all of this time.</p>

<p>“ah iya, biar gak pegel-pegel.”</p>

<p>jaemin smiled at him, “<em>thanks</em>, ini berapaan?”</p>

<p>“gak usah, gituan doang,”</p>

<p>“lah? beneran ini? tapi akunya yang ga enak dong,”</p>

<p>“gak papa, seriusan. langsung balik aja yuk, makannya di kosku aja. aku tadi pagi habis dipesenin mama go-food, belum kumakan,”</p>

<p>jaemin blinked his eyes slowly at those words, “jadi mau nraktir makan sekalian ini ceritanya?”</p>

<p>“iyaaa, mumpung masih tanggal muda, si mama biasa suka kirim-kirim juga. yuk, ah. aku laper.”</p>

<p>jaemin&#39;s smile grew bigger after that. his monthly allowance hasn&#39;t been transfered yet, so it&#39;s such a good opportunity, he could saving more a little.</p>

<p>“lain kali kutraktir balik deh, njun.”</p>

<p>“boleh. traktir malatang ya,”</p>

<p>jaemin laughed at that, “apa mau kamuu deh,”</p>

<p>“beneran ini,”</p>

<p>“iyeee. <em>btw</em>, kok tahu aku lagi butuh ini? cenayang apa gimana?”</p>

<p>renjun contemplating whether he should answer with the truth or not. somehow, it&#39;ll make him looks ... weird or something. but at the other hand he can&#39;t really find another reason. his stomach grumbled annoyingly, it made his brain didn&#39;t want to work like usual.</p>

<p>“<em>well</em>, wangimu ... beda,”</p>

<p>“wangiku?” jaemin sniffed himself confusingly (and honestly that looks funny), “wangi gimana maksudnya?”</p>

<p>“kamu ... bau salon pas.”</p>

<p>“hah? kok tahu? kecium banget ya?” jaemin sniffed himself again.</p>

<p>“errr lumayan. kamu biasanya wanginya wangi downy, tapi tadi pagi ... bau salon pas ... jadi kupikir kayaknya kamu lagi pegel apa gimana,”</p>

<p>“kamu apal sama wangiku?”</p>

<p>“<em>not everyone likes to pour so much fabric softener as much as you</em>,”</p>

<p>“aah, iya sih ya. biasanya pada lebih suka pake parfum,” jaemin scratching his head, realizing one of his own unusual habbit.</p>

<p>“jadi gara-gara aku bau salon pas makanya kamu beliin aku salep ini?”</p>

<p>“iya, <em>is that ... weird</em>?</p>

<p>“<em>no</em>,” jaemin smiled at him again, renjun&#39;s stomach feels like flipped out, “enggak aneh sama sekali. intuisi kamu kuat bener ya? emang badanku lagi ga enak sih, pegel-pegel. jadi ini makasih banget.”</p>

<p>“makanya ... pantes aja itu kantong mata kamu tebel banget. habis begadang lagi kan? sampe-sampe lupa jadwal kuliah sendiri. udah gitu, udah tahu salah jadwal masih maksain ke kampus juga, padahal bisa aja kan pulang ke kos, tidur, istirahat. bukannya wifi-an di kampus.”</p>

<p>renjun knew he was rambling but he doesn&#39;t really care now. beside, jaemin&#39;s fond smile at him made him feeling more confident to be honest.</p>

<p>“dan kamu belum sarapan juga, kan? ini tadi di kantin pasti juga ga jajan?”</p>

<p>“hehe, iya kemarin bunda ngabarin, kirimannya telat sehari, jadi mau ngirit sekalian buat makan siang ntar niatnya.”</p>

<p>“ya makanya. udah sekarang cepetan jalannya biar cepet sampe kos, aku laper banget nih,”</p>

<p>jaemin chuckled again, following renjun&#39;s step from behind. thanking renjun again and that boy just smile again, said that it&#39;s all okay. it&#39;s all okay.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://sparklingdust.writeas.com/002l6z8mawbt504v</guid>
      <pubDate>Thu, 14 Nov 2019 17:44:45 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>--sayang, apa kau dengar.</title>
      <link>https://sparklingdust.writeas.com/renjuns-phone-rings-continously-when-he-already-fall-in-a-deep-sleep?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[--sayang, apa kau dengar.&#xA;&#xA;renjun&#39;s phone rings continously when he already fall in a deep sleep. he dreams about swimming across a sea of milk and there is jaemin floating in front of him, while riding a strawberry shaped boat, offering him a hand to catch on. his smile is so blinding despite the ridiculous costume he wear on (he wear a strawberry-shaped costume, red colour with a white dot all over it, there is something similar like a crown leaf on top of his head. it&#39;s kind of ironic because jaemin himself isn&#39;t a fan of strawberry yet he used that kind of costume. he looks so stupid with that clothes. stupidly handsome). renjun is about to catch jaemin&#39;s hand in front of him when his phone ringing again for the seventh time that night. he wake up with a groan, feeling so annoyed because even if his dream was so weird, he prefer to not get woken up when he is asleep. especially when he goes to sleep past midnight and actually has morning class for the next day.&#xA;&#xA;he then blindly searching for his phone, it&#39;s under his pillow, still ringing angrily. without looking at the caller name he picks up the call, not bothering to hide his annoyance.&#xA;&#xA;&#34;sopo iki? ngerti ora kowe iki jam pira?&#34;&#xA;&#xA;the person in other line get silence for awhile, and then he hear him chuckles. his voice dangerously sounds familiar like his boyfriend&#39;s.&#xA;&#xA;&#34;sayang~&#34;&#xA;&#xA;ah, it&#39;s his boyfriend.&#xA;&#xA;&#34;jaemin? eneg opo? neg ra penting tak tutup lho, aku ngantuk,&#34;&#xA;&#xA;&#34;opo kowe...&#34;&#xA;&#xA;jaemin&#39;s voice sounds so low. renjun with still half lidded eyes, frowned, trying to work on his brain to figuring out what his boyfriend trying to said.&#xA;&#xA;&#34;opo? opo aku opo?&#34;&#xA;&#xA;&#34;krungu~&#34;&#xA;&#xA;the crease on renjun&#39;s forehead added, his boyfriend&#39;s word just sounds incoherent for him.&#xA;&#xA;&#34;krungu? krungu opo? iki kowe ora lagi nglindur tah, na?&#34;&#xA;&#xA;&#34;jeriting atiku, berharap engkau kembali. sayang nganti memutih rambutku, ra bakal--&#34;&#xA;&#xA;&#34;WOALAH GEMBLUNG!&#34;&#xA;&#xA;renjun cut off his call. he doesn&#39;t need to heard the rest of jaemin&#39;s sentence because he already know it&#39;s just a lyric from the song that he already heard too many times in his life. too much for his liking. when his phone ringing again, he just turn it off immediately. jaemin will get special &#39;lesson&#39; from him tomorrow morning.&#xA;&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>—sayang, apa kau dengar.</p>

<p>renjun&#39;s phone rings continously when he already fall in a deep sleep. he dreams about swimming across a sea of milk and there is jaemin floating in front of him, while riding a strawberry shaped boat, offering him a hand to catch on. his smile is so blinding despite the ridiculous costume he wear on (he wear a strawberry-shaped costume, red colour with a white dot all over it, there is something similar like a crown leaf on top of his head. it&#39;s kind of ironic because jaemin himself isn&#39;t a fan of strawberry yet he used that kind of costume. he looks so stupid with that clothes. stupidly handsome). renjun is about to catch jaemin&#39;s hand in front of him when his phone ringing again for the seventh time that night. he wake up with a groan, feeling so annoyed because even if his dream was so weird, he prefer to not get woken up when he is asleep. especially when he goes to sleep past midnight and actually has morning class for the next day.</p>

<p>he then blindly searching for his phone, it&#39;s under his pillow, still ringing angrily. without looking at the caller name he picks up the call, not bothering to hide his annoyance.</p>

<p>“sopo iki? ngerti ora kowe iki jam pira?”</p>

<p>the person in other line get silence for awhile, and then he hear him chuckles. his voice dangerously sounds familiar like his boyfriend&#39;s.</p>

<p>“sayang~”</p>

<p>ah, it&#39;s his boyfriend.</p>

<p>“jaemin? eneg opo? neg ra penting tak tutup lho, aku ngantuk,”</p>

<p>“opo kowe...”</p>

<p>jaemin&#39;s voice sounds so low. renjun with still half lidded eyes, frowned, trying to work on his brain to figuring out what his boyfriend trying to said.</p>

<p>“opo? opo aku opo?”</p>

<p>“krungu~”</p>

<p>the crease on renjun&#39;s forehead added, his boyfriend&#39;s word just sounds incoherent for him.</p>

<p>“krungu? krungu opo? iki kowe ora lagi nglindur tah, na?”</p>

<p>“jeriting atiku, berharap engkau kembali. sayang nganti memutih rambutku, ra bakal—”</p>

<p>“WOALAH GEMBLUNG!”</p>

<p>renjun cut off his call. he doesn&#39;t need to heard the rest of jaemin&#39;s sentence because he already know it&#39;s just a lyric from the song that he already heard too many times in his life. too much for his liking. when his phone ringing again, he just turn it off immediately. jaemin will get special &#39;lesson&#39; from him tomorrow morning.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://sparklingdust.writeas.com/renjuns-phone-rings-continously-when-he-already-fall-in-a-deep-sleep</guid>
      <pubDate>Sun, 13 Oct 2019 15:35:38 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Day 1, love letter.</title>
      <link>https://sparklingdust.writeas.com/day-1-love-letter?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Day 1, love letter.&#xA;&#xA;.&#xA;.&#xA;renjun memang pernah bilang, kalau pernyataan cinta dengan menggunakan surat cinta itu spesial, penuh romansa dan mempunyai nilai perjuangannya sendiri. menurutnya, ada keistimewaan yang hanya bisa tersampaikan lewat goresan-goresan pena di atas kertas, selain terlihat lebih &#39;niat&#39;, tentu saja rasanya lebih personal. seberapa tulus seseorang terkadang juga bisa dilihat dari situ. si pengirim rela menyempatkan waktunya untuk mencurahkan isi hatinya lewat tulisan di kertas, dan lagi, mencurahkan perasaan lewat kata-kata bukan hal yang mudah, kan? tidak semua orang bisa begitu. belum lagi, mengumpulkan keberanian untuk menyampaikan suratnya pada orang yang mereka suka. renjun pernah berada di masa-masa ketika dia menginginkan ada yang bakal mengirimkan surat cinta untuknya, penasaran saja apa mungkin dia bisa jatuh cinta lewat pernyataan di surat cinta. atau menuliskan surat cinta untuk seseorang, kendati dia sendiri bukan orang yang pandai menyampaikan rasa lewat tulisan, tapi kalau namanya sudah jatuh cinta, bisa membuat orang melakukan apa saja, kan?&#xA;&#xA;dulu sekali memang ada yang mengirimkan surat cinta untuk renjun. waktu baru menginjak bangku sekolah menengah pertama, laci mejanya sempat beberapa kali disambangi surat-surat romantis seperti itu. mungkin karena renjun cukup populer di tahun angkatannya. sejak tahun pertamanya memang dia ikut beberapa ekstrakurikuler sekalian kompetisi dance dan menyanyi. beberapa kali juga berhasil menang di kompetisi jadi wajar saja kalau dia populer. semua orang di sekolahnya (setidaknya) tahu namanya, walaupun belum tentu juga kenal. isi surat cintanya pun macam-macam, ada yang hanya mengungkapkan kekagumannya saja (biasanya yang seperti ini bersembunyi di balik identitas anonim), ada yang terang-terangan bilang menyukainya dan ingin menjadi pacarnya, ada juga yang isinya mengajak ketemuan di tempat tertentu (biasanya di belakang sekolah sewaktu pulang sekolah), tujuannya ya tentu saja mengungkapkan rasa suka dan kalau bisa ya perasaannya bersambut. &#xA;&#xA;sayangnya, dari semua hal itu belum ada yang benar-benar bisa menggugah hatinya. bukannya renjun meragukan ketulusan mereka, tapi yang namanya hati kan tidak bisa dia atur seenaknya. kalau dibilang tidak ada yang berkesan ya tidak juga, ada beberapa yang isinya masih dia ingat sampai beberapa tahun kemudian. tapi ya itu, menyambut perasaan seseorang itu masalah hati. walaupun kadang renjun merasa tidak enak juga sih, terus-terusan menolak. tapi ya, daripada berpura-pura suka demi menyenangkan orang lain? sama saja kan dia seperti mempermainkan perasaan orang. itu rasanya lebih kurang ajar. hingga tiba masa kelulusan tiba pun, tidak ada yang bisa membuatnya merasakan hal yang sefrekuensi. begitu juga dengan orang yang bisa membuatnya ingin menulis surat cinta, renjun belum menemukannya.&#xA;&#xA;setidaknya renjun belajar satu hal: mendapat surat cinta tidak lantas akan membuatmu jatuh cinta.&#xA;&#xA;tahun-tahun itu sudah berlalu lama, tertinggal jauh di belakang. seiring perkembangan jaman, surat cinta tidak lagi sering digunakan. kalaupun ada ya beberapa sudah beralih dalam bentuk lain, surat elektronik misalnya. teknologi semakin maju, banyak media yang bisa digunakan untuk mengungkapkan perasaan. atau berbicara langsung empat mata juga rasanya lebih efektif.&#xA;&#xA;renjun sendiri lambat laun semakin disibukkan dengan kehidupannya. mulai dari kehidupan sekolah, kompetisi dance, job menyanyi, klub melukis. semua itu berjejalan dalam daftar kesehariannya selepas SMP. terus berlanjut hingga dia masuk kuliah, mengambil jurusan seni musik, mendapat job part time sebagai penyiar radio online. tentu saja dalam rentetan kejadian dalam kehidupannya, renjun bertemu dengan banyak orang. belajar mengenal berbagai karakter orang. belajar beradaptasi dengan lingkungan baru, pekerjaan baru, hobi baru. dari situ dia belajar banyak tentang dinamika relasi dengan orang lain. berbagai macam orang dia temui, berbagai macam relasi dia pelajari. tapi belum ada satu pun yang berbau romansa.&#xA;&#xA;kalau dibilang renjun terlalu menyibukkan diri dan menghindar dari urusan percintaan ya tidak juga. renjun tidak pernah benar-benar menutup pintu, tapi ya itu tadi, cinta itu urusan hatinya. pernah dia tertarik dengan seseorang di awal masa perkuliahannya tapi ya hubungan mereka tidak ke mana-mana. orangnya keburu pergi, mengajukan cuti kuliah di semester kedua. yang benar saja? padahal saat itu renjun sudah lumayan dekat dengannya. tidak dekat-dekat banget, tapi ya tidak jauh-jauh banget. mereka satu fakultas tapi tidak satu jurusan, kebetulan saja bergabung di klub musik yang sama. obrolan mereka nyambung dan terkadang--ini akan terdengar klise, tapi, renjun sering kali salah tingkah kalau di depan orang ini. di beberapa waktu, dia mengingatkan renjun akan angan-angannya soal menulis surat cinta pada seseorang. tapi memangnya itu berarti dia jatuh cinta?&#xA;&#xA;memang sih orangnya cakep, lucu, ramah, suka menolong dan rajin menabung. walaupun sesekali tengil juga, sih. tapi kan itu kriteria basic yang memang pada dasarnya disukai banyak orang. mungkin saja renjun hanya kagum. kalau dibilang jatuh cinta kok rasa-rasanya muluk sekali. apa lagi ini renjun yang sering dibilang &#34;anti cinta-cintaan klub&#34; (orang-orang kadang suka memberi julukan seenaknya).&#xA;&#xA;meski begitu pertanyaan tentang &#34;apa iya aku jatuh cinta? ah, masa sih?&#34; terus berkelindan di kepalanya. pun bayang-bayang soal surat cinta yang ingin ditulisnya itu sempat mampir di benaknya beberapa kali. tapi renjun masih ragu.&#xA;&#xA;sampai akhirnya orang itu menghilang di semester kedua, pergi ke tempat yang jauh (katanya untuk rehabilitasi, dia hanya menghubungi renjun sekali, setelah itu tidak ada kabar lagi). dari teman-temannya juga tidak ada yang tahu.&#xA;&#xA;entah kenapa, saat itu renjun merasa dikhianati. padahal ya mereka tidak terikat perjanjian apapun, tidak pernah ada yang terjalin di antara mereka. kalau menurut logika renjun, ya semuanya sepihak di sisinya. perasaannya sendiri juga toh masih ambigu.&#xA;&#xA;di awal-awal kepergiannya renjun sempat merasa begitu ... kosong. mungkin karena di klub musik mereka, renjun justru paling dekat dengan orang itu. terlepas dari perbedaan jurusan mereka. mungkin ada alasan lain? entahlah. renjun tidak ingin berpikir terlalu jauh pada saat itu. bagaimanapun, hidupnya harus terus berlanjut. dia mulai lebih fokus lagi dengan kegiatannya, bunyi-bunyi lonceng pertanyaan dan surat cinta di kepalanya dia abaikan. &#xA;&#xA;tidak perlu, tidak perlu.&#xA;&#xA;toh ya, hidup tidak melulu soal cinta-cintaan.&#xA;toh ya, surat cinta itu cuma salah satu hasrat masa pubernya yang tidak kesampaian.&#xA;toh ya, orangnya tidak ada di sini.&#xA;toh ya, renjun sendiri saja masih tidak yakin dengan apa yang dirasakannya.&#xA;&#xA;tapi memang, sering kali semesta bekerja tanpa ada yang bisa menduganya. di suatu bulan September, saat daun hawa mulai mendingin dan jalanan di garosu-gil mulai menguning, lonceng-lonceng pertanyaan itu kembali berisik di kepala renjun.&#xA;&#xA;penyebabnya sederhana: renjun membuka pintu ruang klub musik mereka, dan yang pertama menyambutnya adalah orang yang baru saja menghilang satu semester lamanya. senyumnya terkembang lebar dan menyambut renjun dengan kehangatan yang sama.&#xA;&#xA;&#34;lama tidak berjumpa, injun-ah,&#34;&#xA;&#xA;&#34;jaemin-ah.&#34;&#xA;&#xA;sesederhana ini, dan keinginan renjun untuk menulis surat cinta, terbit kembali. &#xA;&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Day 1, love letter.</p>

<p>.
.
renjun memang pernah bilang, kalau pernyataan cinta dengan menggunakan surat cinta itu spesial, penuh romansa dan mempunyai nilai perjuangannya sendiri. menurutnya, ada keistimewaan yang hanya bisa tersampaikan lewat goresan-goresan pena di atas kertas, selain terlihat lebih &#39;niat&#39;, tentu saja rasanya lebih personal. seberapa tulus seseorang terkadang juga bisa dilihat dari situ. si pengirim rela menyempatkan waktunya untuk mencurahkan isi hatinya lewat tulisan di kertas, dan lagi, mencurahkan perasaan lewat kata-kata bukan hal yang mudah, kan? tidak semua orang bisa begitu. belum lagi, mengumpulkan keberanian untuk menyampaikan suratnya pada orang yang mereka suka. renjun pernah berada di masa-masa ketika dia menginginkan ada yang bakal mengirimkan surat cinta untuknya, penasaran saja apa mungkin dia bisa jatuh cinta lewat pernyataan di surat cinta. atau menuliskan surat cinta untuk seseorang, kendati dia sendiri bukan orang yang pandai menyampaikan rasa lewat tulisan, tapi kalau namanya sudah jatuh cinta, bisa membuat orang melakukan apa saja, kan?</p>

<p>dulu sekali memang ada yang mengirimkan surat cinta untuk renjun. waktu baru menginjak bangku sekolah menengah pertama, laci mejanya sempat beberapa kali disambangi surat-surat romantis seperti itu. mungkin karena renjun cukup populer di tahun angkatannya. sejak tahun pertamanya memang dia ikut beberapa ekstrakurikuler sekalian kompetisi dance dan menyanyi. beberapa kali juga berhasil menang di kompetisi jadi wajar saja kalau dia populer. semua orang di sekolahnya (setidaknya) tahu namanya, walaupun belum tentu juga kenal. isi surat cintanya pun macam-macam, ada yang hanya mengungkapkan kekagumannya saja (biasanya yang seperti ini bersembunyi di balik identitas anonim), ada yang terang-terangan bilang menyukainya dan ingin menjadi pacarnya, ada juga yang isinya mengajak ketemuan di tempat tertentu (biasanya di belakang sekolah sewaktu pulang sekolah), tujuannya ya tentu saja mengungkapkan rasa suka dan kalau bisa ya perasaannya bersambut.</p>

<p>sayangnya, dari semua hal itu belum ada yang benar-benar bisa menggugah hatinya. bukannya renjun meragukan ketulusan mereka, tapi yang namanya hati kan tidak bisa dia atur seenaknya. kalau dibilang tidak ada yang berkesan ya tidak juga, ada beberapa yang isinya masih dia ingat sampai beberapa tahun kemudian. tapi ya itu, menyambut perasaan seseorang itu masalah hati. walaupun kadang renjun merasa tidak enak juga sih, terus-terusan menolak. tapi ya, daripada berpura-pura suka demi menyenangkan orang lain? sama saja kan dia seperti mempermainkan perasaan orang. itu rasanya lebih kurang ajar. hingga tiba masa kelulusan tiba pun, tidak ada yang bisa membuatnya merasakan hal yang sefrekuensi. begitu juga dengan orang yang bisa membuatnya ingin menulis surat cinta, renjun belum menemukannya.</p>

<p>setidaknya renjun belajar satu hal: mendapat surat cinta tidak lantas akan membuatmu jatuh cinta.</p>

<p>tahun-tahun itu sudah berlalu lama, tertinggal jauh di belakang. seiring perkembangan jaman, surat cinta tidak lagi sering digunakan. kalaupun ada ya beberapa sudah beralih dalam bentuk lain, surat elektronik misalnya. teknologi semakin maju, banyak media yang bisa digunakan untuk mengungkapkan perasaan. atau berbicara langsung empat mata juga rasanya lebih efektif.</p>

<p>renjun sendiri lambat laun semakin disibukkan dengan kehidupannya. mulai dari kehidupan sekolah, kompetisi dance, job menyanyi, klub melukis. semua itu berjejalan dalam daftar kesehariannya selepas SMP. terus berlanjut hingga dia masuk kuliah, mengambil jurusan seni musik, mendapat job part time sebagai penyiar radio online. tentu saja dalam rentetan kejadian dalam kehidupannya, renjun bertemu dengan banyak orang. belajar mengenal berbagai karakter orang. belajar beradaptasi dengan lingkungan baru, pekerjaan baru, hobi baru. dari situ dia belajar banyak tentang dinamika relasi dengan orang lain. berbagai macam orang dia temui, berbagai macam relasi dia pelajari. tapi belum ada satu pun yang berbau romansa.</p>

<p>kalau dibilang renjun terlalu menyibukkan diri dan menghindar dari urusan percintaan ya tidak juga. renjun tidak pernah benar-benar menutup pintu, tapi ya itu tadi, cinta itu urusan hatinya. pernah dia tertarik dengan seseorang di awal masa perkuliahannya tapi ya hubungan mereka tidak ke mana-mana. orangnya keburu pergi, mengajukan cuti kuliah di semester kedua. yang benar saja? padahal saat itu renjun sudah lumayan dekat dengannya. tidak dekat-dekat banget, tapi ya tidak jauh-jauh banget. mereka satu fakultas tapi tidak satu jurusan, kebetulan saja bergabung di klub musik yang sama. obrolan mereka nyambung dan terkadang—ini akan terdengar klise, tapi, renjun sering kali salah tingkah kalau di depan orang ini. di beberapa waktu, dia mengingatkan renjun akan angan-angannya soal menulis surat cinta pada seseorang. tapi memangnya itu berarti dia jatuh cinta?</p>

<p>memang sih orangnya cakep, lucu, ramah, suka menolong dan rajin menabung. walaupun sesekali tengil juga, sih. tapi kan itu kriteria basic yang memang pada dasarnya disukai banyak orang. mungkin saja renjun hanya kagum. kalau dibilang jatuh cinta kok rasa-rasanya muluk sekali. apa lagi ini renjun yang sering dibilang “anti cinta-cintaan klub” (orang-orang kadang suka memberi julukan seenaknya).</p>

<p>meski begitu pertanyaan tentang “apa iya aku jatuh cinta? ah, masa sih?” terus berkelindan di kepalanya. pun bayang-bayang soal surat cinta yang ingin ditulisnya itu sempat mampir di benaknya beberapa kali. tapi renjun masih ragu.</p>

<p>sampai akhirnya orang itu menghilang di semester kedua, pergi ke tempat yang jauh (katanya untuk rehabilitasi, dia hanya menghubungi renjun sekali, setelah itu tidak ada kabar lagi). dari teman-temannya juga tidak ada yang tahu.</p>

<p>entah kenapa, saat itu renjun merasa dikhianati. padahal ya mereka tidak terikat perjanjian apapun, tidak pernah ada yang terjalin di antara mereka. kalau menurut logika renjun, ya semuanya sepihak di sisinya. perasaannya sendiri juga toh masih ambigu.</p>

<p>di awal-awal kepergiannya renjun sempat merasa begitu ... kosong. mungkin karena di klub musik mereka, renjun justru paling dekat dengan orang itu. terlepas dari perbedaan jurusan mereka. mungkin ada alasan lain? entahlah. renjun tidak ingin berpikir terlalu jauh pada saat itu. bagaimanapun, hidupnya harus terus berlanjut. dia mulai lebih fokus lagi dengan kegiatannya, bunyi-bunyi lonceng pertanyaan dan surat cinta di kepalanya dia abaikan.</p>

<p>tidak perlu, tidak perlu.</p>

<p>toh ya, hidup tidak melulu soal cinta-cintaan.
toh ya, surat cinta itu cuma salah satu hasrat masa pubernya yang tidak kesampaian.
toh ya, orangnya tidak ada di sini.
toh ya, renjun sendiri saja masih tidak yakin dengan apa yang dirasakannya.</p>

<p>tapi memang, sering kali semesta bekerja tanpa ada yang bisa menduganya. di suatu bulan September, saat daun hawa mulai mendingin dan jalanan di garosu-gil mulai menguning, lonceng-lonceng pertanyaan itu kembali berisik di kepala renjun.</p>

<p>penyebabnya sederhana: renjun membuka pintu ruang klub musik mereka, dan yang pertama menyambutnya adalah orang yang baru saja menghilang satu semester lamanya. senyumnya terkembang lebar dan menyambut renjun dengan kehangatan yang sama.</p>

<p>“lama tidak berjumpa, injun-ah,”</p>

<p>“jaemin-ah.”</p>

<p>sesederhana ini, dan keinginan renjun untuk menulis surat cinta, terbit kembali.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://sparklingdust.writeas.com/day-1-love-letter</guid>
      <pubDate>Tue, 01 Oct 2019 14:38:55 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>[drable] jaemren - i miss you right here</title>
      <link>https://sparklingdust.writeas.com/drable-jaemren-i-miss-you-right-here?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[[drable] jaemren - i miss you right here&#xA;&#xA;Tidak seperti beberapa hari sebelumnya, di mana Jaemin terbangun di atas kasur kamarnya yang lebar dan hangat. Hari ini Jaemin terbangun dengan punggung yang kaku, kaki-kakinya yang terasa kesemutan dan tangan kanan yang kebas. Dia mencoba menggerakkan tangan kanannya untuk meregangkan otot, tapi ternyata tangannya tertindih sesuatu. Butuh waktu beberapa sekon untuk Jaemin sadar saat ini sedang di mana. Rupanya, dia tertidur di atas sofa ruang tamu, dengan posisi tubuh terdesak ke dinding sofa, sebagian kaki panjangnya menggantung di lengan sofa karena itu lah bangun-bangun kakinya sudah kesemutan. Lalu, sesuatu yang membuat lengan kanannya kebas itu ternyata adalah kepala seseorang yang saat ini sedang tertidur dengan pulas di sampingnya. Jaemin hampir saja terserang panik dadakan kalau saja dia tidak segera mengenali orang itu adalah Renjun.&#xA;&#xA;Jaemin mengerjap beberapa kali, memastikan yang dilihatnya di depannya ini memang Renjun dan dia sedang tidak bermimpi. Dia mencoba menggerakkan kembali lengannya dengan pelan, kali ini Renjun bergeming, menggerutu dengan bahasa China yang terdengar tidak jelas. Bukannya bangun, Renjun justru menarik leher Jaemin ke dalam pelukannya, memangkas jarak di antara mereka menjadi semakin lekat. Napas Jaemin tercekat seketika, jadi ini bukan mimpi? Bukannya Renjun seharusnya sedang ada di China?&#xA;&#xA;Tapi Renjun yang sedang mendekapnya ini terasa begitu nyata dan samar-samar suara televisi yang lupa Jaemin matikan semalam terdengar semakin jelas di telinganya. Hembusan napas Renjun yang mengenai ceruk lehernya juga terasa begitu hangat.  Jaemin mencoba mengumpulkan keping-keping ingatannya tentang apa yang terjadi di hari sebelumnya, tapi kekuatan memorinya memang tidak pernah terlalu baik, apalagi baru bangun tidur seperti ini.&#xA;&#xA;&#34;Injun-ah?&#34;&#xA;&#34;Hmmm.&#34; Getaran suara Renjun terasa begitu dekat, bulu kuduk Jaemin meremang tiba-tiba.&#xA;&#34;Kau ... kapan kau pulang ke sini?&#34;&#xA;&#xA;Renjun tidak langsung menjawab. Dia justru menarik diri sedikit dari pelukannya, memandang Jaemin dengan tatapan seolah-olah Jaemin menumbuhkan kepala lain, &#34;Jaemin-ah, kau mengigau ya?&#34;&#xA;&#xA;Kali ini Jaemin yang mengerutkan alisnya, heran.&#xA;&#34;Hah?&#34;&#xA;&#xA;Renjun memandangnya lagi, lebih lama, namun kali ini ada kilatan jenaka dalam tatapannya. Dia kemudian kembali menyamankan dirinya ke posisi sebelumnya, menenggelamkan wajahnya di leher Jaemin.&#xA;&#xA;&#34;Ah, kau ini benar-benar,&#34; Renjun berkata pelan, suaranya masih sedikit parau karena bangun tidur, &#34;Aku &#39;kan sudah kembali dari kemarin, bertemu denganmu sebentar sore hari, lalu aku pergi ke TBS untuk siaran, kau mendengarkan siaran radioku bukan semalam?&#34;&#xA;&#xA;&#34;AH!&#34; &#xA;&#34;Jangan berteriak, aku masih ingin tidur.&#34; Renjun berkata seraya lebih mengeratkan pelukannya. Jaemin merasa hampir tercekik, tapi dia tak keberatan. Perlahan memorinya tentang hari sebelumnya mulai terkumpul.&#xA;&#xA;Dia baru saja kembali dari liburan Chuseok, menjadi yang pertama kali kembali di dorm Dream, yang berarti dia menjadi satu-satunya penghuni dorm di hari pertama masa liburan singkat mereka usai. Jisung dan Jeno sudah bilang di chat room bahwa mereka baru akan kembali hari Selasa, memperpanjang satu hari masa liburan. Jisung masih ingin lebih lama bersama keluarganya dan Jeno masih merindukan Bongshik, Seol dan Nal. Jadwal penerbangan Chenle masih Senin malam, jadi paling hari Selasa dia baru sampai. Donghyuck sudah kembali ke dorm 127. Hanya Renjun yang tidak mengabari kapan tepatnya dia akan pulang, katanya biar jadi kejutan. Tapi tentu saja foto-foto dari fans di sosial media mengkhianatinya. Sekitar pukul lima Renjun sampai di dorm, membawa kopernya yang kelihatan semakin penuh dan rangkaian bunga yang diberikan fansnya di bandara. Mereka hanya mengobrol sekilas, tidak banyak, Renjun mengatakan oleh-oleh untuk Jaemin ada di koper tapi tidak akan dia berikan saat itu. Dia sudah harus bersiap untuk jadwal siaran radio.&#xA;&#xA;Jaemin ingat saat Renjun berpamitan untuk pergi siaran, memandangnya sedikit lama, lalu tiba-tiba mencium pipinya sekilas dan berjalan keluar sambil tertawa-tawa. Mood-nya sedang bagus sekali sepertinya, mungkin efek liburan singkatnya. Jaemin hanya terkekeh-kekeh di ruang tamu, memegangi pipinya yang baru saja dikecup sekilas oleh Renjun. Wangi Renjun masih menempel di sekitarnya. Jaemin menyukainya.&#xA;&#xA;Setelah itu Jaemin menyeduh kopinya sendiri. Menyalakan televisi sembari menunggu siaran radio Renjun mulai. Mendengarkan siaran radio Renjun sudah menjadi rutinitas hariannya, bahkan ketika liburan kemarin dia masih menyempatkan waktu khusus untuk mendengarkan. Hal itu bisa memberikan ketenangan baginya, sekalian obat kangen kalau sedang jauh.&#xA;&#xA;Selesai mendengarkan radio, Jaemin kembali menyalakan televisi. Menelusuri lini masa sosial medianya. Sendirian di dorm yang biasanya selalu berisik begini terasa sepi sekali. Waktu terasa berjalan lebih lambat dari biasanya. Suara televisi di hadapannya tidak banyak membantu, hanya menjadi suara bising sebagai latar belakang. Jaemin menonton televisi di depannya hanya sambil lalu saja, berkali-kali mengganti channel siaran, tidak ada satu pun yang menarik minatnya. Terakhir yang diingatnya adalah iklan biji kopi Irene, seniornya, membuatnya teringat dengan tingkah konyol Jisung di siaran PUFF mereka.&#xA;&#xA;Setelahnya, ingatan Jaemin samar. Mungkin dia jatuh tertidur setelahnya. Dia tidak ingat kapan tepatnya dia tertidur, tidak tahu kapan Renjun kembali, juga tidak sadar ketika Renjun berakhir tertidur juga di pelukannya.&#xA;&#xA;&#34;Jam berapa kau pulang semalam?&#34; Jaemin akhirnya menyamankan posisi lengannya, memutuskan membiarkan Renjun melanjutkan tidur dalam pelukannya. Akhir-akhir ini kesempatan seperti ini semakin langka mereka dapatkan, dengan jadwal promosi, kegiatan overseas, individu dan latihan mereka yang semakin padat, waktu untuk privasi jadi semakin menyempit. Tangannya yang terasa kebas bisa dia abaikan saja.&#xA;&#xA;&#34;Hmm ... sekitar jam 11, kau sudah terlelap dan menggelepar di sofa, pose tidurmu konyol sekali,&#34;&#xA;&#34;Kenapa tidak membangunkanku?&#34;&#xA;&#34;Heh,&#34; Salah satu tangan Renjun menepuk lengan kiri Jaemin, &#34;Kayak kau gampang saja dibangunin.&#34;&#xA;&#34;Hehe,&#34; Jaemin terkekeh pelan, menyempatkan mencium puncak rambut Renjun sekilas, wangi melati, &#34;Dan akhirnya kau pilih ikutan tidur di sini, hm? Kangen sekali ya padaku?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Tidak akan melewatkan kesempatan dapat guling eksklusif, sih,&#34;&#xA;&#xA;&#34;Susah sekali ya bilang kangen padaku, padahal aku sudah kangen, kangen, kangen sekali padamuuuu. Kesal sekali kemarin hanya ketemu sebentar dan kau sudah buru-buru pergi lagi,&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ssst, aku masih ingin tidur, Jaemin-ah,&#34;&#xA;&#xA;&#34;Aku masih kangen padamu. Ingin ngobrol berdua banyak, nenekku kemarin kukasih dengar rekaman kau menyanyikan lagu Temptation of Wife, katanya kapan-kapan kau harus ikut pulang. Mau mendengarmu menyanyi langsung,&#34;&#xA;&#xA;Renjun terkekeh pelan, &#34;Kau ini yang begitu pakai dikasih dengar segala,&#34;&#xA;&#xA;&#34;Biar saja, aku mau pamer,&#34;&#xA;&#xA;&#34;Dasar.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Injun-ah,&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hm?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Aku kangen.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Iya, iya. Aku juga.&#34;&#xA;&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>[drable] jaemren – i miss you right here</p>

<p>Tidak seperti beberapa hari sebelumnya, di mana Jaemin terbangun di atas kasur kamarnya yang lebar dan hangat. Hari ini Jaemin terbangun dengan punggung yang kaku, kaki-kakinya yang terasa kesemutan dan tangan kanan yang kebas. Dia mencoba menggerakkan tangan kanannya untuk meregangkan otot, tapi ternyata tangannya tertindih sesuatu. Butuh waktu beberapa sekon untuk Jaemin sadar saat ini sedang di mana. Rupanya, dia tertidur di atas sofa ruang tamu, dengan posisi tubuh terdesak ke dinding sofa, sebagian kaki panjangnya menggantung di lengan sofa karena itu lah bangun-bangun kakinya sudah kesemutan. Lalu, sesuatu yang membuat lengan kanannya kebas itu ternyata adalah kepala seseorang yang saat ini sedang tertidur dengan pulas di sampingnya. Jaemin hampir saja terserang panik dadakan kalau saja dia tidak segera mengenali orang itu adalah Renjun.</p>

<p>Jaemin mengerjap beberapa kali, memastikan yang dilihatnya di depannya ini memang Renjun dan dia sedang tidak bermimpi. Dia mencoba menggerakkan kembali lengannya dengan pelan, kali ini Renjun bergeming, menggerutu dengan bahasa China yang terdengar tidak jelas. Bukannya bangun, Renjun justru menarik leher Jaemin ke dalam pelukannya, memangkas jarak di antara mereka menjadi semakin lekat. Napas Jaemin tercekat seketika, jadi ini bukan mimpi? Bukannya Renjun seharusnya sedang ada di China?</p>

<p>Tapi Renjun yang sedang mendekapnya ini terasa begitu nyata dan samar-samar suara televisi yang lupa Jaemin matikan semalam terdengar semakin jelas di telinganya. Hembusan napas Renjun yang mengenai ceruk lehernya juga terasa begitu hangat.  Jaemin mencoba mengumpulkan keping-keping ingatannya tentang apa yang terjadi di hari sebelumnya, tapi kekuatan memorinya memang tidak pernah terlalu baik, apalagi baru bangun tidur seperti ini.</p>

<p>“Injun-ah?”
“Hmmm.” Getaran suara Renjun terasa begitu dekat, bulu kuduk Jaemin meremang tiba-tiba.
“Kau ... kapan kau pulang ke sini?”</p>

<p>Renjun tidak langsung menjawab. Dia justru menarik diri sedikit dari pelukannya, memandang Jaemin dengan tatapan seolah-olah Jaemin menumbuhkan kepala lain, “Jaemin-ah, kau mengigau ya?”</p>

<p>Kali ini Jaemin yang mengerutkan alisnya, heran.
“Hah?”</p>

<p>Renjun memandangnya lagi, lebih lama, namun kali ini ada kilatan jenaka dalam tatapannya. Dia kemudian kembali menyamankan dirinya ke posisi sebelumnya, menenggelamkan wajahnya di leher Jaemin.</p>

<p>“Ah, kau ini benar-benar,” Renjun berkata pelan, suaranya masih sedikit parau karena bangun tidur, “Aku &#39;kan sudah kembali dari kemarin, bertemu denganmu sebentar sore hari, lalu aku pergi ke TBS untuk siaran, kau mendengarkan siaran radioku bukan semalam?”</p>

<p>“AH!”
“Jangan berteriak, aku masih ingin tidur.” Renjun berkata seraya lebih mengeratkan pelukannya. Jaemin merasa hampir tercekik, tapi dia tak keberatan. Perlahan memorinya tentang hari sebelumnya mulai terkumpul.</p>

<p>Dia baru saja kembali dari liburan Chuseok, menjadi yang pertama kali kembali di dorm Dream, yang berarti dia menjadi satu-satunya penghuni dorm di hari pertama masa liburan singkat mereka usai. Jisung dan Jeno sudah bilang di chat room bahwa mereka baru akan kembali hari Selasa, memperpanjang satu hari masa liburan. Jisung masih ingin lebih lama bersama keluarganya dan Jeno masih merindukan Bongshik, Seol dan Nal. Jadwal penerbangan Chenle masih Senin malam, jadi paling hari Selasa dia baru sampai. Donghyuck sudah kembali ke dorm 127. Hanya Renjun yang tidak mengabari kapan tepatnya dia akan pulang, katanya biar jadi kejutan. Tapi tentu saja foto-foto dari fans di sosial media mengkhianatinya. Sekitar pukul lima Renjun sampai di dorm, membawa kopernya yang kelihatan semakin penuh dan rangkaian bunga yang diberikan fansnya di bandara. Mereka hanya mengobrol sekilas, tidak banyak, Renjun mengatakan oleh-oleh untuk Jaemin ada di koper tapi tidak akan dia berikan saat itu. Dia sudah harus bersiap untuk jadwal siaran radio.</p>

<p>Jaemin ingat saat Renjun berpamitan untuk pergi siaran, memandangnya sedikit lama, lalu tiba-tiba mencium pipinya sekilas dan berjalan keluar sambil tertawa-tawa. Mood-nya sedang bagus sekali sepertinya, mungkin efek liburan singkatnya. Jaemin hanya terkekeh-kekeh di ruang tamu, memegangi pipinya yang baru saja dikecup sekilas oleh Renjun. Wangi Renjun masih menempel di sekitarnya. Jaemin menyukainya.</p>

<p>Setelah itu Jaemin menyeduh kopinya sendiri. Menyalakan televisi sembari menunggu siaran radio Renjun mulai. Mendengarkan siaran radio Renjun sudah menjadi rutinitas hariannya, bahkan ketika liburan kemarin dia masih menyempatkan waktu khusus untuk mendengarkan. Hal itu bisa memberikan ketenangan baginya, sekalian obat kangen kalau sedang jauh.</p>

<p>Selesai mendengarkan radio, Jaemin kembali menyalakan televisi. Menelusuri lini masa sosial medianya. Sendirian di dorm yang biasanya selalu berisik begini terasa sepi sekali. Waktu terasa berjalan lebih lambat dari biasanya. Suara televisi di hadapannya tidak banyak membantu, hanya menjadi suara bising sebagai latar belakang. Jaemin menonton televisi di depannya hanya sambil lalu saja, berkali-kali mengganti channel siaran, tidak ada satu pun yang menarik minatnya. Terakhir yang diingatnya adalah iklan biji kopi Irene, seniornya, membuatnya teringat dengan tingkah konyol Jisung di siaran PUFF mereka.</p>

<p>Setelahnya, ingatan Jaemin samar. Mungkin dia jatuh tertidur setelahnya. Dia tidak ingat kapan tepatnya dia tertidur, tidak tahu kapan Renjun kembali, juga tidak sadar ketika Renjun berakhir tertidur juga di pelukannya.</p>

<p>“Jam berapa kau pulang semalam?” Jaemin akhirnya menyamankan posisi lengannya, memutuskan membiarkan Renjun melanjutkan tidur dalam pelukannya. Akhir-akhir ini kesempatan seperti ini semakin langka mereka dapatkan, dengan jadwal promosi, kegiatan overseas, individu dan latihan mereka yang semakin padat, waktu untuk privasi jadi semakin menyempit. Tangannya yang terasa kebas bisa dia abaikan saja.</p>

<p>“Hmm ... sekitar jam 11, kau sudah terlelap dan menggelepar di sofa, pose tidurmu konyol sekali,”
“Kenapa tidak membangunkanku?”
“Heh,” Salah satu tangan Renjun menepuk lengan kiri Jaemin, “Kayak kau gampang saja dibangunin.”
“Hehe,” Jaemin terkekeh pelan, menyempatkan mencium puncak rambut Renjun sekilas, wangi melati, “Dan akhirnya kau pilih ikutan tidur di sini, hm? Kangen sekali ya padaku?”</p>

<p>“Tidak akan melewatkan kesempatan dapat guling eksklusif, sih,”</p>

<p>“Susah sekali ya bilang kangen padaku, padahal aku sudah kangen, kangen, kangen sekali padamuuuu. Kesal sekali kemarin hanya ketemu sebentar dan kau sudah buru-buru pergi lagi,”</p>

<p>“Ssst, aku masih ingin tidur, Jaemin-ah,”</p>

<p>“Aku masih kangen padamu. Ingin ngobrol berdua banyak, nenekku kemarin kukasih dengar rekaman kau menyanyikan lagu Temptation of Wife, katanya kapan-kapan kau harus ikut pulang. Mau mendengarmu menyanyi langsung,”</p>

<p>Renjun terkekeh pelan, “Kau ini yang begitu pakai dikasih dengar segala,”</p>

<p>“Biar saja, aku mau pamer,”</p>

<p>“Dasar.”</p>

<p>“Injun-ah,”</p>

<p>“Hm?”</p>

<p>“Aku kangen.”</p>

<p>“Iya, iya. Aku juga.”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://sparklingdust.writeas.com/drable-jaemren-i-miss-you-right-here</guid>
      <pubDate>Tue, 17 Sep 2019 05:48:45 +0000</pubDate>
    </item>
  </channel>
</rss>