Day 1, love letter.

. . renjun memang pernah bilang, kalau pernyataan cinta dengan menggunakan surat cinta itu spesial, penuh romansa dan mempunyai nilai perjuangannya sendiri. menurutnya, ada keistimewaan yang hanya bisa tersampaikan lewat goresan-goresan pena di atas kertas, selain terlihat lebih 'niat', tentu saja rasanya lebih personal. seberapa tulus seseorang terkadang juga bisa dilihat dari situ. si pengirim rela menyempatkan waktunya untuk mencurahkan isi hatinya lewat tulisan di kertas, dan lagi, mencurahkan perasaan lewat kata-kata bukan hal yang mudah, kan? tidak semua orang bisa begitu. belum lagi, mengumpulkan keberanian untuk menyampaikan suratnya pada orang yang mereka suka. renjun pernah berada di masa-masa ketika dia menginginkan ada yang bakal mengirimkan surat cinta untuknya, penasaran saja apa mungkin dia bisa jatuh cinta lewat pernyataan di surat cinta. atau menuliskan surat cinta untuk seseorang, kendati dia sendiri bukan orang yang pandai menyampaikan rasa lewat tulisan, tapi kalau namanya sudah jatuh cinta, bisa membuat orang melakukan apa saja, kan?

dulu sekali memang ada yang mengirimkan surat cinta untuk renjun. waktu baru menginjak bangku sekolah menengah pertama, laci mejanya sempat beberapa kali disambangi surat-surat romantis seperti itu. mungkin karena renjun cukup populer di tahun angkatannya. sejak tahun pertamanya memang dia ikut beberapa ekstrakurikuler sekalian kompetisi dance dan menyanyi. beberapa kali juga berhasil menang di kompetisi jadi wajar saja kalau dia populer. semua orang di sekolahnya (setidaknya) tahu namanya, walaupun belum tentu juga kenal. isi surat cintanya pun macam-macam, ada yang hanya mengungkapkan kekagumannya saja (biasanya yang seperti ini bersembunyi di balik identitas anonim), ada yang terang-terangan bilang menyukainya dan ingin menjadi pacarnya, ada juga yang isinya mengajak ketemuan di tempat tertentu (biasanya di belakang sekolah sewaktu pulang sekolah), tujuannya ya tentu saja mengungkapkan rasa suka dan kalau bisa ya perasaannya bersambut.

sayangnya, dari semua hal itu belum ada yang benar-benar bisa menggugah hatinya. bukannya renjun meragukan ketulusan mereka, tapi yang namanya hati kan tidak bisa dia atur seenaknya. kalau dibilang tidak ada yang berkesan ya tidak juga, ada beberapa yang isinya masih dia ingat sampai beberapa tahun kemudian. tapi ya itu, menyambut perasaan seseorang itu masalah hati. walaupun kadang renjun merasa tidak enak juga sih, terus-terusan menolak. tapi ya, daripada berpura-pura suka demi menyenangkan orang lain? sama saja kan dia seperti mempermainkan perasaan orang. itu rasanya lebih kurang ajar. hingga tiba masa kelulusan tiba pun, tidak ada yang bisa membuatnya merasakan hal yang sefrekuensi. begitu juga dengan orang yang bisa membuatnya ingin menulis surat cinta, renjun belum menemukannya.

setidaknya renjun belajar satu hal: mendapat surat cinta tidak lantas akan membuatmu jatuh cinta.

tahun-tahun itu sudah berlalu lama, tertinggal jauh di belakang. seiring perkembangan jaman, surat cinta tidak lagi sering digunakan. kalaupun ada ya beberapa sudah beralih dalam bentuk lain, surat elektronik misalnya. teknologi semakin maju, banyak media yang bisa digunakan untuk mengungkapkan perasaan. atau berbicara langsung empat mata juga rasanya lebih efektif.

renjun sendiri lambat laun semakin disibukkan dengan kehidupannya. mulai dari kehidupan sekolah, kompetisi dance, job menyanyi, klub melukis. semua itu berjejalan dalam daftar kesehariannya selepas SMP. terus berlanjut hingga dia masuk kuliah, mengambil jurusan seni musik, mendapat job part time sebagai penyiar radio online. tentu saja dalam rentetan kejadian dalam kehidupannya, renjun bertemu dengan banyak orang. belajar mengenal berbagai karakter orang. belajar beradaptasi dengan lingkungan baru, pekerjaan baru, hobi baru. dari situ dia belajar banyak tentang dinamika relasi dengan orang lain. berbagai macam orang dia temui, berbagai macam relasi dia pelajari. tapi belum ada satu pun yang berbau romansa.

kalau dibilang renjun terlalu menyibukkan diri dan menghindar dari urusan percintaan ya tidak juga. renjun tidak pernah benar-benar menutup pintu, tapi ya itu tadi, cinta itu urusan hatinya. pernah dia tertarik dengan seseorang di awal masa perkuliahannya tapi ya hubungan mereka tidak ke mana-mana. orangnya keburu pergi, mengajukan cuti kuliah di semester kedua. yang benar saja? padahal saat itu renjun sudah lumayan dekat dengannya. tidak dekat-dekat banget, tapi ya tidak jauh-jauh banget. mereka satu fakultas tapi tidak satu jurusan, kebetulan saja bergabung di klub musik yang sama. obrolan mereka nyambung dan terkadang—ini akan terdengar klise, tapi, renjun sering kali salah tingkah kalau di depan orang ini. di beberapa waktu, dia mengingatkan renjun akan angan-angannya soal menulis surat cinta pada seseorang. tapi memangnya itu berarti dia jatuh cinta?

memang sih orangnya cakep, lucu, ramah, suka menolong dan rajin menabung. walaupun sesekali tengil juga, sih. tapi kan itu kriteria basic yang memang pada dasarnya disukai banyak orang. mungkin saja renjun hanya kagum. kalau dibilang jatuh cinta kok rasa-rasanya muluk sekali. apa lagi ini renjun yang sering dibilang “anti cinta-cintaan klub” (orang-orang kadang suka memberi julukan seenaknya).

meski begitu pertanyaan tentang “apa iya aku jatuh cinta? ah, masa sih?” terus berkelindan di kepalanya. pun bayang-bayang soal surat cinta yang ingin ditulisnya itu sempat mampir di benaknya beberapa kali. tapi renjun masih ragu.

sampai akhirnya orang itu menghilang di semester kedua, pergi ke tempat yang jauh (katanya untuk rehabilitasi, dia hanya menghubungi renjun sekali, setelah itu tidak ada kabar lagi). dari teman-temannya juga tidak ada yang tahu.

entah kenapa, saat itu renjun merasa dikhianati. padahal ya mereka tidak terikat perjanjian apapun, tidak pernah ada yang terjalin di antara mereka. kalau menurut logika renjun, ya semuanya sepihak di sisinya. perasaannya sendiri juga toh masih ambigu.

di awal-awal kepergiannya renjun sempat merasa begitu ... kosong. mungkin karena di klub musik mereka, renjun justru paling dekat dengan orang itu. terlepas dari perbedaan jurusan mereka. mungkin ada alasan lain? entahlah. renjun tidak ingin berpikir terlalu jauh pada saat itu. bagaimanapun, hidupnya harus terus berlanjut. dia mulai lebih fokus lagi dengan kegiatannya, bunyi-bunyi lonceng pertanyaan dan surat cinta di kepalanya dia abaikan.

tidak perlu, tidak perlu.

toh ya, hidup tidak melulu soal cinta-cintaan. toh ya, surat cinta itu cuma salah satu hasrat masa pubernya yang tidak kesampaian. toh ya, orangnya tidak ada di sini. toh ya, renjun sendiri saja masih tidak yakin dengan apa yang dirasakannya.

tapi memang, sering kali semesta bekerja tanpa ada yang bisa menduganya. di suatu bulan September, saat daun hawa mulai mendingin dan jalanan di garosu-gil mulai menguning, lonceng-lonceng pertanyaan itu kembali berisik di kepala renjun.

penyebabnya sederhana: renjun membuka pintu ruang klub musik mereka, dan yang pertama menyambutnya adalah orang yang baru saja menghilang satu semester lamanya. senyumnya terkembang lebar dan menyambut renjun dengan kehangatan yang sama.

“lama tidak berjumpa, injun-ah,”

“jaemin-ah.”

sesederhana ini, dan keinginan renjun untuk menulis surat cinta, terbit kembali.