[drable] jaemren – i miss you right here
Tidak seperti beberapa hari sebelumnya, di mana Jaemin terbangun di atas kasur kamarnya yang lebar dan hangat. Hari ini Jaemin terbangun dengan punggung yang kaku, kaki-kakinya yang terasa kesemutan dan tangan kanan yang kebas. Dia mencoba menggerakkan tangan kanannya untuk meregangkan otot, tapi ternyata tangannya tertindih sesuatu. Butuh waktu beberapa sekon untuk Jaemin sadar saat ini sedang di mana. Rupanya, dia tertidur di atas sofa ruang tamu, dengan posisi tubuh terdesak ke dinding sofa, sebagian kaki panjangnya menggantung di lengan sofa karena itu lah bangun-bangun kakinya sudah kesemutan. Lalu, sesuatu yang membuat lengan kanannya kebas itu ternyata adalah kepala seseorang yang saat ini sedang tertidur dengan pulas di sampingnya. Jaemin hampir saja terserang panik dadakan kalau saja dia tidak segera mengenali orang itu adalah Renjun.
Jaemin mengerjap beberapa kali, memastikan yang dilihatnya di depannya ini memang Renjun dan dia sedang tidak bermimpi. Dia mencoba menggerakkan kembali lengannya dengan pelan, kali ini Renjun bergeming, menggerutu dengan bahasa China yang terdengar tidak jelas. Bukannya bangun, Renjun justru menarik leher Jaemin ke dalam pelukannya, memangkas jarak di antara mereka menjadi semakin lekat. Napas Jaemin tercekat seketika, jadi ini bukan mimpi? Bukannya Renjun seharusnya sedang ada di China?
Tapi Renjun yang sedang mendekapnya ini terasa begitu nyata dan samar-samar suara televisi yang lupa Jaemin matikan semalam terdengar semakin jelas di telinganya. Hembusan napas Renjun yang mengenai ceruk lehernya juga terasa begitu hangat. Jaemin mencoba mengumpulkan keping-keping ingatannya tentang apa yang terjadi di hari sebelumnya, tapi kekuatan memorinya memang tidak pernah terlalu baik, apalagi baru bangun tidur seperti ini.
“Injun-ah?”
“Hmmm.” Getaran suara Renjun terasa begitu dekat, bulu kuduk Jaemin meremang tiba-tiba.
“Kau ... kapan kau pulang ke sini?”
Renjun tidak langsung menjawab. Dia justru menarik diri sedikit dari pelukannya, memandang Jaemin dengan tatapan seolah-olah Jaemin menumbuhkan kepala lain, “Jaemin-ah, kau mengigau ya?”
Kali ini Jaemin yang mengerutkan alisnya, heran.
“Hah?”
Renjun memandangnya lagi, lebih lama, namun kali ini ada kilatan jenaka dalam tatapannya. Dia kemudian kembali menyamankan dirinya ke posisi sebelumnya, menenggelamkan wajahnya di leher Jaemin.
“Ah, kau ini benar-benar,” Renjun berkata pelan, suaranya masih sedikit parau karena bangun tidur, “Aku 'kan sudah kembali dari kemarin, bertemu denganmu sebentar sore hari, lalu aku pergi ke TBS untuk siaran, kau mendengarkan siaran radioku bukan semalam?”
“AH!”
“Jangan berteriak, aku masih ingin tidur.” Renjun berkata seraya lebih mengeratkan pelukannya. Jaemin merasa hampir tercekik, tapi dia tak keberatan. Perlahan memorinya tentang hari sebelumnya mulai terkumpul.
Dia baru saja kembali dari liburan Chuseok, menjadi yang pertama kali kembali di dorm Dream, yang berarti dia menjadi satu-satunya penghuni dorm di hari pertama masa liburan singkat mereka usai. Jisung dan Jeno sudah bilang di chat room bahwa mereka baru akan kembali hari Selasa, memperpanjang satu hari masa liburan. Jisung masih ingin lebih lama bersama keluarganya dan Jeno masih merindukan Bongshik, Seol dan Nal. Jadwal penerbangan Chenle masih Senin malam, jadi paling hari Selasa dia baru sampai. Donghyuck sudah kembali ke dorm 127. Hanya Renjun yang tidak mengabari kapan tepatnya dia akan pulang, katanya biar jadi kejutan. Tapi tentu saja foto-foto dari fans di sosial media mengkhianatinya. Sekitar pukul lima Renjun sampai di dorm, membawa kopernya yang kelihatan semakin penuh dan rangkaian bunga yang diberikan fansnya di bandara. Mereka hanya mengobrol sekilas, tidak banyak, Renjun mengatakan oleh-oleh untuk Jaemin ada di koper tapi tidak akan dia berikan saat itu. Dia sudah harus bersiap untuk jadwal siaran radio.
Jaemin ingat saat Renjun berpamitan untuk pergi siaran, memandangnya sedikit lama, lalu tiba-tiba mencium pipinya sekilas dan berjalan keluar sambil tertawa-tawa. Mood-nya sedang bagus sekali sepertinya, mungkin efek liburan singkatnya. Jaemin hanya terkekeh-kekeh di ruang tamu, memegangi pipinya yang baru saja dikecup sekilas oleh Renjun. Wangi Renjun masih menempel di sekitarnya. Jaemin menyukainya.
Setelah itu Jaemin menyeduh kopinya sendiri. Menyalakan televisi sembari menunggu siaran radio Renjun mulai. Mendengarkan siaran radio Renjun sudah menjadi rutinitas hariannya, bahkan ketika liburan kemarin dia masih menyempatkan waktu khusus untuk mendengarkan. Hal itu bisa memberikan ketenangan baginya, sekalian obat kangen kalau sedang jauh.
Selesai mendengarkan radio, Jaemin kembali menyalakan televisi. Menelusuri lini masa sosial medianya. Sendirian di dorm yang biasanya selalu berisik begini terasa sepi sekali. Waktu terasa berjalan lebih lambat dari biasanya. Suara televisi di hadapannya tidak banyak membantu, hanya menjadi suara bising sebagai latar belakang. Jaemin menonton televisi di depannya hanya sambil lalu saja, berkali-kali mengganti channel siaran, tidak ada satu pun yang menarik minatnya. Terakhir yang diingatnya adalah iklan biji kopi Irene, seniornya, membuatnya teringat dengan tingkah konyol Jisung di siaran PUFF mereka.
Setelahnya, ingatan Jaemin samar. Mungkin dia jatuh tertidur setelahnya. Dia tidak ingat kapan tepatnya dia tertidur, tidak tahu kapan Renjun kembali, juga tidak sadar ketika Renjun berakhir tertidur juga di pelukannya.
“Jam berapa kau pulang semalam?” Jaemin akhirnya menyamankan posisi lengannya, memutuskan membiarkan Renjun melanjutkan tidur dalam pelukannya. Akhir-akhir ini kesempatan seperti ini semakin langka mereka dapatkan, dengan jadwal promosi, kegiatan overseas, individu dan latihan mereka yang semakin padat, waktu untuk privasi jadi semakin menyempit. Tangannya yang terasa kebas bisa dia abaikan saja.
“Hmm ... sekitar jam 11, kau sudah terlelap dan menggelepar di sofa, pose tidurmu konyol sekali,”
“Kenapa tidak membangunkanku?”
“Heh,” Salah satu tangan Renjun menepuk lengan kiri Jaemin, “Kayak kau gampang saja dibangunin.”
“Hehe,” Jaemin terkekeh pelan, menyempatkan mencium puncak rambut Renjun sekilas, wangi melati, “Dan akhirnya kau pilih ikutan tidur di sini, hm? Kangen sekali ya padaku?”
“Tidak akan melewatkan kesempatan dapat guling eksklusif, sih,”
“Susah sekali ya bilang kangen padaku, padahal aku sudah kangen, kangen, kangen sekali padamuuuu. Kesal sekali kemarin hanya ketemu sebentar dan kau sudah buru-buru pergi lagi,”
“Ssst, aku masih ingin tidur, Jaemin-ah,”
“Aku masih kangen padamu. Ingin ngobrol berdua banyak, nenekku kemarin kukasih dengar rekaman kau menyanyikan lagu Temptation of Wife, katanya kapan-kapan kau harus ikut pulang. Mau mendengarmu menyanyi langsung,”
Renjun terkekeh pelan, “Kau ini yang begitu pakai dikasih dengar segala,”
“Biar saja, aku mau pamer,”
“Dasar.”
“Injun-ah,”
“Hm?”
“Aku kangen.”
“Iya, iya. Aku juga.”